ETIKA DAN PROFESIONAL
Pengertian Etika
Etika (Dalam bahasa Yunani kuno “ethikos“, berarti “timbul dari
kebiasaan”) adalah sebuah sesuatu di mana dan bagaimana cabang utama
filsafat yang mempelajari nilai atau kualitas yang menjadi studi
mengenai standar dan penilaian moral. Etika mencakup analisis dan
penerapan konsep seperti benar, salah, baik, buruk, dan tanggung jawab.
Etika terbagi menjadi tiga bagian utama:
Meta-etika (studi konsep etika)
Meta-etika sebagai suatu jalan menuju konsepsi atas benar atau tidaknya
suatu tindakan atau peristiwa. Dalam meta-etika, tindakan atau peristiwa
yang dibahas dipelajari berdasarkan hal itu sendiri dan dampak yang
dibuatnya. Sebagai contoh,”Seorang anak menendang bola hingga kaca
jendela pecah.” Secara meta-etis, baik-buruknya tindakan tersebut harus
dilihat menurut sudut pandang yang netral. Pertama, dari sudut pandang
si anak, bukanlah suatu kesalahan apabila ia menendang bola ketika
sedang bermain, karena memang dunianya(dunia anak-anak) memang salah
satunya adalah bermain, apalagi ia tidak sengaja melakukannya. Akan
tetapi kalau dilihat dari pihak pemilik jendela, tentu ia akan
mendefinisikan hal ini sebagai kesalahan yang telah dibuat oleh si anak.
Si pemilik jendela berasumsi demikian karena ia merasa dirinya telah
dirugikan. Bagaimanapun juga hal-hal seperti ini tidak akan pernah
menemui kejelasannya hingga salah satu pihak terpaksa kalah atau mungkin
masalah menjadi berlarut-larut. Mungkin juga kedua pihak dapat saling
memberi maklum.Menyikapi persoalan-persoalan yang semacam inilah, maka
meta-etika dijadikan bekal awal dalam mempertimbangkan suatu masalah,
sebelum penetapan hasil pertimbangan dibuat.
Etika normatif (studi penentuan nilai etika)
Merupakan Etika yang menetapkan berbagai sikap dan perilaku yang ideal
dan seharusnya dimiliki oleh manusia atau apa yang seharusnya dijalankan
oleh manusia dan tindakan apa yang bernilai dalam hidup ini. Oleh
karena itu Etika Normatif merupakan norma-norma yang dapat menuntun agar
manusia bertindak secara baik dan menghindarkan hal-hal yang buruk,
sesuai dengan kaidah atau norma yang disepakati dan berlaku di
masyarakat. Etika normatif tersebut tidak lagi menjelaskan tentang
gejala-gejala, melainkan tentang apa yang sebenarnya harus merupakan
tindakan kita. Dalam etika normatif, norma-norma dinilai, dan sikap
manusia ditentukan. Etika Normatif memberi penilaian dan himbauan kepada
manusia untuk bertindak sebagaimana seharusnya berdasarkan norma-norma.
dan menghimbau manusia untuk bertindak yang baik dan menghindari yang
tindakan yang jelek.
Etika terapan (studi penggunaan nilai-nilai etika)
Etika terapan merupakan disiplin filsafat yang berusaha untuk menerapkan
teori – teori etika dalam situasi kehidupan sehari – hari. Etika
terapan merupakan cabang etika yang terdiri dari analisis dari masalah
moral yang spesifik dan konvensional. Berbagai pertanyaan yang dapat
diajukan dalam bidang etika terapan, misalnya: “Apakah melakukan aborsi
amoral?”, “Apakah euthanasia amoral?”, “Apakah binatang juga memiliki
hak?”, Apa saja yang merupakan hak asasi manusia, dan bagaimana
menentukannya?”, dan lain – lain. Pertanyaan juga dapat bersifat lebih
spesifik, seperti: “Jika seseorang dapat membuat hidupnya lebih baik
disbanding saya, apakah benar secara moral untuk mengorbankan saya demi
mereka jika dibutuhkan?” Pertanyaan – pertanyaan ini penting untuk
menjadi tuas penyeimbang di bidang hukum, politik, dan praktik
arbitrasi. Namun, tidak semua pertanyaan dapat diterapkan untuk
kebijakan public. Misalnya, pertanyaan penilaian etika, seperti “Apakah
berbohong itu selalu salah? Jika tidak, kapan dibenarkan?”, lebih
merupakan pertanyaan di bidang etika. Etika terapan dipergunakan untuk
menentukan kebijakan public. Seringkali pertanyaan – pertanyaan etika
terapan mendapatkan bentuk legal atau political, sebelum
diinterpretasikan dalam etika normative, misalnya penetapan piagam hak
asasi manusia sedunia UN Declaration of Human Rights yang ditetapkan
oleh PBB pada tahun 1948 dan penetapan piagam kesadaran lingkungan hidup
Global Green Charter tahun 2001. Etika terapan terus berkembang dalam
tahun – tahun belakangan dan terbagi ke berbagai bidang, seperti etika
kedokteran, etika bisnis, etika lingkungan, etika seksual, dan lain-
lain.
Pengertian Profesi
Profesi adalah kata serapan dari sebuah kata dalam bahasa Inggris
“Profess”, yang dalam bahasa Yunani adalah “Επαγγελια”, yang bermakna:
“Janji untuk memenuhi kewajiban melakukan suatu tugas khusus secara
tetap/permanen”. Profesi adalah pekerjaan yang membutuhkan pelatihan dan
penguasaan terhadap suatu pengetahuan khusus. Suatu profesi biasanya
memiliki asosiasi profesi, kode etik, serta proses sertifikasi dan
lisensi yang khusus untuk bidang profesi tersebut. Contoh profesi adalah
pada bidang hukum, kedokteran, keuangan, militer,teknik dan desainer.
Seseorang yang memiliki suatu profesi tertentu, disebut profesional.
Walaupun begitu, istilah profesional juga digunakan untuk suatu
aktivitas yang menerima bayaran, sebagai lawan kata dari amatir.
Contohnya adalah petinju profesional menerima bayaran untuk pertandingan
tinju yang dilakukannya, sementara olahraga tinju sendiri umumnya tidak
dianggap sebagai suatu profesi.
Karakteristik Profesi
Profesi adalah pekerjaan, namun tidak semua pekerjaan adalah profesi.
Profesi mempunyai karakteristik sendiri yang membedakannya dari
pekerjaan lainnya. Daftar karakterstik ini tidak memuat semua
karakteristik yang pernah diterapkan pada profesi, juga tidak semua ciri
ini berlaku dalam setiap profesi:
Keterampilan yang berdasar pada pengetahuan teoretis: Profesional
diasumsikan mempunyai pengetahuan teoretis yang ekstensif dan memiliki
keterampilan yang berdasar pada pengetahuan tersebut dan bisa diterapkan
dalam praktik.
Asosiasi profesional: Profesi biasanya memiliki badan yang diorganisasi
oleh para anggotanya, yang dimaksudkan untuk meningkatkan status para
anggotanya. Organisasi profesi tersebut biasanya memiliki persyaratan
khusus untuk menjadi anggotanya.
Pendidikan yang ekstensif: Profesi yang prestisius biasanya memerlukan pendidikan yang lama dalam jenjang pendidikan tinggi.
Ujian kompetensi: Sebelum memasuki organisasi profesional, biasanya ada
persyaratan untuk lulus dari suatu tes yang menguji terutama pengetahuan
teoretis.
Pelatihan institutional: Selain ujian, juga biasanya dipersyaratkan
untuk mengikuti pelatihan istitusional dimana calon profesional
mendapatkan pengalaman praktis sebelum menjadi anggota penuh organisasi.
Peningkatan keterampilan melalui pengembangan profesional juga
dipersyaratkan.
Lisensi: Profesi menetapkan syarat pendaftaran dan proses sertifikasi
sehingga hanya mereka yang memiliki lisensi bisa dianggap bisa
dipercaya.
Otonomi kerja: Profesional cenderung mengendalikan kerja dan pengetahuan
teoretis mereka agar terhindar adanya intervensi dari luar.
Kode etik: Organisasi profesi biasanya memiliki kode etik bagi para
anggotanya dan prosedur pendisiplinan bagi mereka yang melanggar aturan.
Mengatur diri: Organisasi profesi harus bisa mengatur organisasinya
sendiri tanpa campur tangan pemerintah. Profesional diatur oleh mereka
yang lebih senior, praktisi yang dihormati, atau mereka yang
berkualifikasi paling tinggi.
Layanan publik dan altruisme: Diperolehnya penghasilan dari kerja
profesinya dapat dipertahankan selama berkaitan dengan kebutuhan publik,
seperti layanan dokter berkontribusi terhadap kesehatan masyarakat.
Status dan imbalan yang tinggi: Profesi yang paling sukses akan meraih
status yang tinggi, prestise, dan imbalan yang layak bagi para
anggotanya. Hal tersebut bisa dianggap sebagai pengakuan terhadap
layanan yang mereka berikan bagi masyarakat.
Pengertian Profesionalisme
Profesionalisme adalah komitmen para profesional terhadap profesinya.
Komitmen tersebut ditunjukkan dengan kebanggaan dirinya sebagai tenaga
profesional, usaha terus-menerus untuk mengembangkan kemampuan
profesional, dst.
Ada 4 ciri‐ciri profesionalisme:
Memiliki keterampilan yang tinggi dalam suatu bidang serta kemahiran
dalam menggunakan peralatan tertentu yang diperlukan dalam pelaksanaan
tugas yangbersangkutan dengan bidang tadi.
Memiliki ilmu dan pengalaman serta kecerdasan dalam menganalisis suatu
masalah dan peka di dalam membaca situasi cepat dan tepat serta cermat
dalam mengambil keputusan terbaik atas dasar kepekaan.
Memiliki sikap berorientasi ke depan sehingga punya kemampuan
mengantisipasi perkembangan lingkungan yang terbentang di hadapannya.
Memiliki sikap mandiri berdasarkan keyakinan akan kemampuan pribadi
serta terbuka menyimak dan menghargai pendapat orang lain, namun cermat
dalam memilih yang terbaik bagi diri dan perkembangan pribadinya.
Profesional itu adalah seseorang yang memiliki 3 hal pokok dalam dirinya :
Skill berarti adalah seseorang itu benar-benar ahli di bidangnya
Knowledge tak hanya ahli di bidangnya tapi ia juga menguasai, minimal
tahu dan berwawasan tentang ilmu2 lain yang berhubungan dengan bidangnya
Attitude bukan hanya pintar dan cerdas tapi dia juga punya etika yang diterapkan dalam bidangnya.
Sumber : http://hanifrusydy.blogspot.co.id/
0 komentar :
Posting Komentar